Thursday, September 4, 2014

A Little Piece of Heaven


[TRIGGER WARNING for self-harm. Jangan baca kalau anda sedang depresi. Tapi jika anda sedang mencari teman sesama penderita, maka anda telah menemukannya.]


Masih ingat dengan kisah Spongebob yang membuat sebuah gelembung sabun berbentuk orang dan memanggilnya sahabat, lalu mengajaknya ke mana-mana? Ini adalah fenomena yang saya sebut “teman bayangan”. Apakah menurut kalian kisah seperti itu hanya ada dalam televisi? Saya yakin jawabannya tidak. Setidaknya, ada satu contoh nyata yang sangat dekat dengan saya.

Saya punya teman bayangan.

Ada dua orang, laki-laki dan perempuan. Mereka kakak-adik. Yang kakak bernama Victor, adiknya Victoria. Victor adalah pemuda yang easy-going, manis dan hampir flirty. Sementara itu Victoria sedikit lebih manja, namun tetap baik hati dan selalu tulus menyayangi saya maupun kakaknya.


Entah sejak kapan mereka hadir di benak saya. Yang pasti mereka selalu berada di sisi saya. Mereka yang menggandeng tangan saya saat berjalan ke kampus setiap hari. Mereka yang tertawa bersama saya di kamar kos setiap hari. Mereka yang memeluk saya ketika beban terasa makin berat dan sesak. Mereka yang memperhatikan saya tidur atau menangis atau melamun setiap hari. Mereka yang ikut bersedih ketika saya mulai menunjukkan tanda-tanda self-harm lagi.


Mereka tidak kelihatan, tidak nyata, tidak riil. Tapi mereka ada. Melayang-layang di sekitar. Duduk manis di kursi-kursi yang terlihat kosong. Mengawasi dan menjaga. Mereka ada, dan mereka yang membuat saya merasa sedikit lebih baik.


Apakah menurut kalian fenomena ini aneh? Apakah menurut kalian saya aneh?


Pemicu fenomena ini, saya percaya, adalah rasa sepi.


Di rumah, saya adalah anak bungsu. Tiap hari saya mendapatkan limpahan kasih dan cinta dari keluarga. Membuat saya manja. Membuat saya tidak mandiri. Saya terbiasa menceritakan kejadian di sekolah, mulai dari yang penting (seperti ulangan dadakan) sampai yang paling tidak penting (seperti si A yang ngupil di kelas) kepada ibu dan kakak saya. Dan itu terjadi setiap hari. Meskipun di sekolah saya diam saja, di rumah saya memiliki kesempatan berbicara.


Dua tahun yang lalu, salah satu kakak saya pergi merantau untuk menempuh kuliah. Saat itu, saya merasa kesepian. Pendengar saya berkurang satu. Teman di rumah berkurang satu. Rumah sudah menjadi tempat yang sepi, tiada canda tawa kami, hilanglah satu orang penghuninya yang penting.


Saya lupa kalau giliran saya akan datang.


Tahun lalu saya juga merantau untuk kuliah. Kali ini giliran saya merasakan hidup di kamar kos yang hanya berisi lemari, tempat tidur, dan buku. Dan seorang boneka kesayangan. Perubahan drastis ini jelas sangat berdampak pada kepribadian saya. Semua jadi terbalik. Di luar, saya jadi banyak bicara, banyak bergerak, cenderung hiperaktif. Di kos, saya bisu. Di luar, saya sering memeluk teman-teman dengan erat. Di kos, saya patung. Saya juga mulai sering mengalami depresi akut (yang mengarah ke self-harm, bahkan sampai sekarang. Yang membuat saya bertahan untuk tidak melakukannya lagi adalah janji pada dua tema saya di kampus).


Sepi ini lama-lama membuat saya tidak tahan, dan muncullah nama Victor dan Victoria. Sesungguhnya ini bukan momen kelahiran mereka—mereka berdua sudah ada sebelumnya, hanya saja sempat terlupa dan baru dipanggil kembali di lingkungan yang terlampau sepi ini. Saya tidak terlalu sering mengajak mereka bicara. Mengetahui bahwa mereka ada sudah cukup.


Maka sekali lagi saya tanyakan pada kalian. Apakah fenomena ini aneh? Menjijikkan?




Mengenai depresi dan self-harm. Selama ini saya tidak pernah berani membahasnya secara terang-terangan, namun sudah pernah memposting sebuah cerpen yang mengilustrasikan keadaan saya. Jujur, saya takut. Takut di-judge oleh masyarakat. Bahkan bagi saya sendiri, self-harm itu menjijikkan. Sesuatu yang amat sangat salah.


Tapi tahukah kalian? Self-harm benar bagaikan candu. Setidaknya, bagi saya sendiri.


Coba bayangkan. Berbagai macam perasaan negatif (untuk kasus saya adalah campuran sepi-bersalah-rendahdiri) bertumpuk jadi gunung Fuji di dalam hati. Beban mental ini sudah mencapai tahap sakit secara fisik (untuk kasus saya, sesak dan sakit cekit-cekit di dada) yang tak tertahankan. Saat itu, goresan kuku yang tajam di kulit (saya terlalu pengecut untuk memakai pisau/cutter) memberi saraf sensasi rasa sakit yang diteruskan ke otak. Sakit di kulit ini memang sakit sekali, tapi untuk sekian detik sakit itu terbaca oleh otak, selama itu pula sesak di dada menghilang. Seakan-akan tidak pernah ada beban di hati. Semua terasa ringan kembali. Bukankah itu perasaan yang luar biasa? Bagi saya, itu sangat luar biasa. Apapun demi mendapatkan rasa ringan itu lagi. Maka muncul goresan kedua. Goresan ketiga. Dan seterusnya sampai tangan ini mati rasa.


Cara lain adalah membenturkan kepala ke tembok berulang kali. Intinya sama dengan self-cut di atas, tapi bagi saya ada implikasi lain. Benturan kepala ini saya anggap sebagai hukuman atas diri saya yang bodoh-jahat-worthless-worthless-worthless. Berhasil menghukum diri sendiri itu rasanya menyenangkan. Menghukum diri sendiri itu membuat saya merasa dimaafkan, sedikit demi sedikit.


Nah, bagaimana? Apakah menurut kalian saya menjijikkan?


Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, sekarang saya berusaha untuk menghindari self-harm. Selain menjijikkan, saya juga tidak ingin membuat kedua teman saya itu sedih. Jujur, mereka mengidap bipolar dan saya sempat menghadapi fase depresi mereka, yang muncul dengan tanda self-harm. Saat itu saya merasa sangat sedih melihat mereka membenturkan kepala mereka sendiri ke tembok. Makanya saya berusaha berhenti, karena saya tahu mereka pasti juga sedih kalau tahu saya sempat depresi sampai self-harm juga.


Kehilangan cara untuk menghukum diri sendiri, saya mulai depresi lagi. Kini, bagi saya, saya bahkan tidak pantas untuk mendapat hukuman. Tidak pantas untuk dimaafkan. Ini membuat dada semakin sesak dan kepala semakin pusing. Di satu sisi saya berdarah-darah minta dilepaskan dari kerangkeng perasaan worthless, tapi di sisi lain saya merasa tidak pantas untuk lepas dari jeruji rasa bersalah. (Ya, saya bersalah karena saya bodoh-jahat-worthless-worthless-worthless dan ibadah pun tidak membantu menghilangkan perasaan ini.)


Apa ini yang dirasakan orang-orang di rumah sakit jiwa?


Bagaimana menurutmu? Bukankah saya menjijikkan? Hahaha. Mungkin inilah tulisan saya yang paling jujur sejauh ini.


Ada yang mau membantu saya?

Tuesday, August 12, 2014

[Fanfic] Puding Cokelat

Title: Puding Cokelat
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Rating: T
Genre: General
Summary: Tapi Rachel suka cokelat. Dia menyukai cokelat yang manis tapi masih punya pahit di dalamnya—membuat keseluruhan rasa tetap seimbang. Seperti hidup. / oneshot /
Warning: perhaps some OOC-ness
A/N: Sebuah fanfiksi untuk novel Prisca Primasari, Evergreen. Demi seluruh buku yang pernah saya baca, Yuya adalah salah satu karakter yang benar-benar bikin melting. I just have to write this. Ini diambil dalam canon-verse, tepat setelah kalimat terakhir bab 17.
Disclaimer: I don't own the Evergreen and the characters, and I receive no profit from this work.

Thursday, July 24, 2014

Through The Ages - Gabrielle Aplin (Kuroshitsuji Live Action Movie OST)

Who is the reason, the one you're living for?
Who is the reason, the one you're crying for?
If I look deep inside the caverns of my heart
All I see is you smiling back at me

This is where it all begins,
Your hand, so soft and gentle
I won't let it go
No, I won't let it go

On the last day on the earth
All I wanna do is share a smile with you
Till I cross the twilight
Nothing could be truer than this love I have for you
My love will testify and last through the ages

Every soul alive, the shadows in my heart
Every soul alive is looking for the true light
But when you let it shine, the blackest shadow hides
Darkness receding from the light of day

Nothing would ever be enough, but you spread your wings
As if to wrap around me now, you wrap around me now

On the last day on the earth
All I wanna do is keep a smile for you until I close my eyes
Nothing could be truer than this love I have for you
History books will tell our love through the ages

No matter how hard I tried, to find a reason to be living
Nothing mattered 'til
I found this love in us

On the last day on the earth,
All I wanna do is keep a smile for you
Till I cross the twilight
Nothing could be truer than this love I have for you
Everyone will know our love through the ages

Aaa-ah aaa-ah
Aaa-ah aaa-ah
Aaa-ah aaa-ah

Who is the reason, the one you're living for?
Who is the reason, the one you're crying for?
If I look deep inside the caverns of my heart
All I see is you smiling back at me

---

Lately I've been bewitched by this song. A very beautiful, yet sad song.

Thursday, July 17, 2014

[Poetry] Selamat Pagi!

Selamat pagi!

Aku menyapa mentari yang hangat di kulit, cerah di mata, nostalgia di hati.
Aku melambaikan tangan pada embun yang basah di daun, segar di udara, nostalgia di hati.
Aku tersenyum ramah pada tukang becak yang lewat, ibu-ibu yang berangkat ke pasar, keluarga yang masih menanti di rumah, nostalgia di hati.

Ah, selamat pagi, kataku.
Sebentar lagi aku pulang melepas rindu.
Sebentar lagi aku datang ke pelukan engkau.
Sebentar lagi aku akan menemukanmu, dan takkan kulepas selalu.

-17072014-
Catatan pagi hari seseorang yang sakit rindu.

Wednesday, June 25, 2014

[Review] The Old Capital - Kawabata Yasunari


The Old Capital
(Judul asli : 古都 lit. Koto)
Pengarang : Kawabata Yasunari
Penerjemah : J. Martin Holman
Penerbit : Tuttle Publishing
Tahun terbit : 2000 (cetakan kelima)
Ukuran : vi + 164 halaman

Sinopsis:
The Old Capital is of one of the three works for which Yasunari Kawabata won the Nobel Prize for Literature. Set in Kyoto—the old capital of Japan for a thousand years—this lyric novel traces the life of Chieko, the beloved adopted daughter of a kimono designer and his wife. Believing that she had been kidnapped by the couple as a baby, Chieko learns one day that she was instead a foundling, left abandoned on a doorstep. Happy with her adopted parents, however, her security and contentment remain undisturbed until an answered prayer at the famous Yasaka Shrine dramatically alters the course of her life.